Langsung ke konten utama

KEBUTUHAN BELAJAR MASYARAKA

 Pengertian Kebutuhan Belajar

       Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia untuk kehidupannya,dami mencapai suatu hasil(tujuan) yang lebih baik.Belajar adalah suatu proses perubahan kearah yang lebih baik yang dapat mengubah seseorang yang tidak tahu menjadi tahu,yang tidak baik menjadi baik,yang tidak pantas menjadi pantas.pada dasarnya kebutuhan belajar  menggambarkan jarak antara tujuan belajar yang diinginkan dan kondisi yang sebenarnya.Peserta didik didorong untuk menyatakan kebutuhan belajar berupa kompetensi tertentu yang ingin mereka miliki dan diperoleh melalui kegiatan pembelajran.
      Peserta didik dibantu untuk mengenali dan menyatakan kemungkinan adanya hambatan dalam upaya memenuhi kebutuhan belajar,baik yang datang dari dalam maupun dari luar.Kebutuhan belajar itu beragam hingga setiap orang memiliki kebutuha belajar yang sangat berbeda atau minim akan pengetahuna.Dalam satu kelompok belajar memiliki 10 orang anggota belajar.kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang yang berada didaerah pendesaan mungkin akan berbeda didaerah perkotaan.identifikasi ini dilakukan dengan menggunakan instrument yang cocok sehingga dapat mengungkapkan informasi yang merasakan kebutuhan belajar

PENGERTIAN MANAJEMEN KEGIATAN ANALISIS
  • Pengertian Manajemen


             Secara etimologis, kata manajemen berasal dari bahasa inggris, yakni management yang dikembangkan dari kata to manage, yang artinya mengattur dan mengelola. Kata manage itu sendiri berasal dari Bahasa italia, maneggio, yang diadopsi dari Bahasa Latin managiare, yang berasal dari kata kamus, yang artinya tangan (Samsudin, 2006: 15). Sedangkan secara terminology tedapat banyak definisi yang di kemukakan oleh banyak ahli. Menurut G,R Terry manajemen adalah sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan- tindakan perencanaan, pengoganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya (Hasibuan, 2001: 3).
            Menurut Handoko, manajemen dapat didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk menentukan, menginterprestasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan  fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling)  Handoko, 1999:8.Johson, sebagaiaman di kutip oleh Pidarta mengemukakan bahwa manajemen adalah proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total menyelesaikan suatu tujuan (Abdul Choliq, 2011:3)
            Stoner sebagiaman dikutip oleh Handoko, menyebutkan bahwa “manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi  yang telah ditetapkan”.(AbdulCholiq,2011:3)

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengendalikan dan mengembangkan segala upaya dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara efektif dan efesien.
Gambar. Terkait manajemen kegaiatan


  
Analisis kebutuhan merupakan alat yang konstruktif dan positif untuk melakukan perubahan. Perubahan yang didasarkan atas logika yang bersifat rasional, perubahan fungsional yang dapat memenuhi kebutuhan  kelompok dan individu. Perubahan ini menunjukkan upaya formal yang sistematis menentukan dan mendekatkan jarak kesenjangan antara “seperti apa yang ada” dengan “bagaimana seharusnya”. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang di perlukan oleh manusia untuk kehidupanya demi mencapai suatu hasil (tujuan) yang lebih baik. Jadi analisis kebutuhan belajar dalam belajar merupakan suatu penelaah materi dengan mendalami secara detail untuk memenuhi kebutuhan belajarnya dan mencapai hasil yang maksimal. Beberapa hal yang perlu di dalami dan dianalisis oleh seorang guru adalah sebagai berikut:
           Kebutuhan itu pada dasarnya adalah kesenjangan (discrepandies) antara apa yang telah tersedia dengan apa yang diharapkan, dan need assessment adalah proses pengumpulan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesempatan untuk dipecahkah. Witkin (1984) mendefinisikan analisis kebutuhan, sebagai proses membuat keputusan dengan memanfaatkan informasi yang dikumpulkaan.
Jadi, analisis kebutuhan dapat dikatakan daftar kebutuhan yang diperlukan dan didata sehingga apa yang diinginkan dapat diketahui berdasarkan skala prioritas serta sebagai bahan pengambilan keputusan oleh manajemen untuk menentukan proses pembelajaran dan sumber belajar apa yang akan digunakan serta model dan desain apa yang akan dilakukan.
Ada beberapa hal yang   yang melekat pada pengertian need assessment, seperti yang dikemukakan baik oleh( McNeil maupun oleh Glasglow).
Ø  Pertama, need assessment  merupakan suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan need assessment. Need assessment  bukanlah suatu hasil, tetapi merupakan suatu aktivitas tertentu dalam upaya mengambil keputusan tertentu.
Ø  Kedua, kebutuhan itu sendiri pada hakikatnya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Dengan demikian maka, need assessment itu adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang kesenjangan yang seharusnya dimiliki setiap siswa dengan apa yang telah dimiliki.
Media direncanakan dan dirancang berdasarkan kebutuhan (need) yang dirasakan oleh audiens atau siswa. Dengan demikian, merancang suatu media tidak berangkat dari keingainan pengembang media itu sendiri, akan tetapi berangkat dari kesenjangan antara apa yang diharapkan dimiliki siswa dengan apa yang telah dimilikinya. Artinya, suatu rancangan pendidikan yang didesain tidak hanya mementingkan keinginan desainer melainkan merancang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, karena siswa dalam lembaga pendidikan adalah produk yang akan dihasilkan oleh lembaga itu sendiri dan kualitas produk (siswa) yang akan dihasilkan melibatkan kinerja dan rancangan yang disusun dalam sistem pembelajaran, sedangkan sistem pembelajaran disusun dan dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam kegiatan pembelajaran



Gambar terkait kebutuhan belajar









a.       Tahapan Pengumpulan Informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siapa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam proses pemecahan masalah.  Data-data yang terkumpul akan bermanfaat dalam menentukan dan menyusun langkah-langkah selanjutnya.
Persoalan mengenai scope dari need assessment meliputi tahapan-tahapan pelaksanaa, penentuan sumber, dan penjadwalan. Persoalan mengenai jenis informasi yang dibutuhkan meliputi fakta atau pengetahuan, kemampuan atau kompetensi, sikan dan pandangan,, serta tingkat hubungan. Persoalan mengenai tehnik pengumpulan data bisa dilakukan dengan interview, studi dokumentasi, observasi, dan diskusi.Persoalan mengenai penggunaan sumber dapat dilakukan melalui sumber manusia, pelayanan, dan teknik laporan.



         





     b.      Tahapan Identifikasi Kesenjangan
Dalam mengidentifikasi kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman manjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Dua elemen pertama, yaitu input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada. Sedangkan elemen yang terakhir meliputi produk, output, dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Komponen input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini. Komponen proses, meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dimiliki serta kelulusan tes kompetensi. Komponen output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasayarat, dan lisensi. Komponen outcome, meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan.

    
  





Analisis Performance
Analisis performance meliputi beberapa hal diantaranya :
1)      Mengidentifikasi guru
2)      Mengidentifikasi sarana dan kelengkapan penunjang
3)      Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah
4)      Mengidentifikasi iklim sekolah dan iklim psikologi
d.      Mengidentifikasi Kendala serta Sumber-sumbernya

Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala bisa muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu program.Berbagai kendala dapat meliputi waktu, fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang terlihat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-
Kepala sekolah, dan siswa itu sendiri, termasuk juga dalam unsur orang ini adalah unsur filsafat atau pandangan orang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya.Kedua, fasilitas yang ada, didalamnya meliputi ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas.Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya.





e.       Identifikasi Karakteristik Siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah dari need assessment.  Identifikasi yang berkaitan dengan siswa diantaranya adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat sosial ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa seperti diatas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang dianggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
Hal ini seperti diungkapkan McGowan dan Clark (1985): “you can take this information about the learner into acoun when selecting instructional strategies”. Strategi pembelajaran yang digunakan akan berbeda untuk siswa yang kemampuan berpikirnya lebih dibandingkan untuk siswa yang memiliki kemampuan berpikir rendah.
Perlunya mengidentifikasi karakteristik siswa berangkat dari asumsi bahwa siswa merupakan organisme yang unik yang memiliki perbedaan. Walaupun secara fisik siswa sama, namun pada bagian-bagian tertentu memiliki perbedaan, misalnya dalam hal kemampuan dasar, minat, bakat dan lain sebagainya. Atas dasar perbedaan tersebut maka, pengembang media pendidikan perlu menyesuaikannya baik dengan gaya bahasa, teknik penyajian, teknik memberikan ilustrasi dan lain sebagainya.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengidentifikasi karakteristik siswa diantaranya :
1)      Tingkat perkembangan psikologi siswa
2)      Kemampuan dasar siswa
3)      Gaya belajar siswa
4)      Kebiasaan siswa.

Dari banyaknya karakter siswa dalam suatu lembaga pendidikan menjadi suatu PR tersendiri bagi pengelola dalam merancang dan merencanakan sistem pembelajaran serta kebutuhan apa saja yang diperlukan. Karena itu dalam hal ini perlu adanya identifikasi karakteristik siswa untuk mengetahui apa saja yang diperlukan untuk pencapaian tujuan yang maksimal.






f.   Identifikasi Tujuan
Secara umum pengertian identifikasi adalah satu cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mengambil alih ciri-ciri orang lain, Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan individu lain atau menjadikannya bagian yang terintegrasi dengan kepribadian dirinya sendiri. Kemudian orang lain yang menjadi tujuan sasaran identifikasi disebut idola (dari kata idol yang berarti "sosok yang dipuja"). Pola hidup, sikap, perilaku bahkan keyakianan sang idola akan melembaga serta menjiwai para pelaku identifikasi sehingga kepribadian mereka terpengaruh dengan sang idol dan membentuk karakter yang mirip.
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mengdokumentasi dan menjustifikan kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai .oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment.

g.      Menentukan Permasalahan
Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditemukan.Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf.
Salah satu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Reserch Utilizing Problem Solving).Tujuan RUP adalah merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaiman tipe permasalahan dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan.Teknik RUPS merupakan teknik yang dianggap peling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang harus dipecahkan.
Terdapat lima pokok pertanyaan yang harus dijawab manakala kita menentukan permasalahan dengan menggunakan teknik RUPS, yaitu :
1)      Siapa yang menjadi sasaran permasalahan, apakah anda sendiri, team teaching, kelompok lain? Atau masyarakat ?
2)      Siapa dan apa factor-faktor penyebab permasalahan, apakah karena factor organisasi? Lemahnya bahan dan alat pendukung?
3)      Macam apa permasalahan yang dihadapi, apakan karena ketidaksepakatan tentang tujuan? Apakan karena lemahnya kemampuan?Tidak adanya sumber yang memadai?Lemahnya komunikasi?Adanya konflik dalam membuat keputusan?
4)      Apakah tujuan pengembangan itu, apa yang akan berbeda manakala tujuan telah berhasil dicapai? Siapa dan akan mengerjakan apa? Apa target yang harus dicapai?
         
     
         

          

          Disamping itu (Morrison, 2001 : 32) berpandangan bahwa ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan menyiapkan laporan akhir.
1.      Perencanaan : yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya. (Morrison, 2001 : 32)
2.      Pengumpulan data : perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison,2001 : 33).
3.      Analisa data : setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan.
4.       Membuat laporan akhir : dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data. (Morrison, 2001: 33-34).



E.Model Pengukuran Kebutuhan Belajar
  Model pengukuran kebutuhan belajar merupakan bentuk pengukuran terhadap hal-hal yang harus ada dan dibutuhkan dalam kegiatan belajar,yang disajikan oleh pendidik(guru) dan disesuaikan dengan program pembelajaran yang dilakukan.Terdapat 3 hal model pengukuran dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar,yaitu model induktif,model deduktif,dan model klasik(Kounfman,1972).
Ø Model Induktif
  Pendekatan yang digunakan dalam model induktif menekankan pada usaha yang dilakukan dari pihak terdekat.Model ini digunakan untuk mengindentifikasi jenis kebutuhan belajar yang bersifat kebutuhan terasa(felt needs) atau kebutuhan belajar dalam pendidikan yang dirasakan langsung oleh peserta didik.
Ø Model Induktif
  Model ini memiliki beberapa keuntungan,yaitu: 1).dapat diperoleh informasi yang langsung.2).tepat mengenai jenis kebutuhan peserta didik,sehingga memudahkan kepada guru(pendidik) untuk memilih materi belajar yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.Setelah memperoleh sejumlah kebutuhan belajar baik dari satu atau beberapa peserta,maka pendidik perlu menetepakan propitas kebutuhan belajar.
A.    Model Deduktif
  Pendekatan pada model ini dilakukan secara deduktif,dalam pengertian bahwa identifikasi kebutuhan pembelajaran dilakukan secara umum,dengan sasaran yang luas.Apabila akan menetapkan kebutuhan belajar untuk peserta didik yang memiliki karateristik yang sama,Maka pelaksanaan identifikasi dilakukan pengajuan pertimbangan kepada semua peserta didik(sasaran).Keuntungan dari tipe ini adalah bahwa hasil identifikasi dapat diperoleh dari sasaran yang luas,sehingga ada kecenderungan penyelesainnya menggunakan harga yang murah,dan relative lebih efisien disbanding dengan tipe induktif.
     Identifikasi pada model ini dilakukan secara universal kepada tiga pihak sasaranya,yaitu:
·    Keluarga peserta pelatihan atau anggota masyarakat lain yang berkepentingan dengan pendidikan.
·    Pelaksanaan dan pengelola pelatihan:kepala,penyelenggaraan,pelatih(tutor) dll.Sasaran ini memiliki pengalaman tentang wujud penyelenggaran pelatihan yang telah diselenggarakan serta berbagai hal yang berkaitan dengan aspek-aspek kegiatan belajar.
·    Peserta Pelatihan,untuk setiap jenis materi pembelajaran yang akan dikembangkan dikelas,sasaran ini ditetapkan untuk mencocokkan keinginan dan mengembangkan proses dan materi pembelajaran.
                 Pelaksanaan identifikasi kebutuhan pelatihan(kebutuhan belajar) pada model deduktif ini dimulai dari identifikasi kepada kedua pihak(keluarga,orangtua,dan pengelola pelatihan).Teknik yang digunakan dalam kegiatan identifikai kebutuhan model ini adalah kuensioner.
Ø  Model Klasik
   Model klasik ini ditujukan untuk menyesuaikan bahan belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum atau program belajar dengan kebutuhan belajar yang dirasakan peserta(sasaran).Kegiatan identifikasi kebutuhan belajar model klasik ini dilakukan pendidik kepada peserta didik,dengan pemberian tes,wawancara,atau kartu kebutuhan belajar,untuk menetapkan kemammpuan  awal peserta kebutuhan belajar.


  F.Strategis Penilaian Kebutuhan Belajar
          Untuk memahami suatu kebutuhan belajar termasuk masalah atau penilain terlebih dahulu terhadap kebutuhan yang teridentifikasi yang disebut dengan need assessment.Rasset menekannya pentimgnya pengumpulan informasi tentang penilaian kebutuhan belajar secara langsung dari siswa baik orang dewasa maupun siswa umum.ia mengidentifikasikan 5 tipe pertanyaan yang berbeda-beda keliam pertanyaan tersebut:
Ø  Mengidentifikasi masalah siswa atau “leaner” tentang seperti yang dihadapi  siswa dalam belajar.
Ø   Menanyakkan kepada siswa untuk mengungkapkan prioritas-prioritas diantara keterampilan yang mungkin dapat dimasukan dalam proses pembelajaran.
Ø  .Meminta kepada siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan tertentu.
Ø  Mencoba untuk mengungkapkan perasaan dan kesan siswa tentang pembelajran tersebut.
Ø  Mmeberikan kepada siswa untuk menentukan pemecahan belajar sendiri secara baik.

Komentar